Monday, 19 August 2013

Aku Pernah Mencintaimu



Sore itu hujan turun perlahan, membahasi bagian luar jendela kamarku, membahasi ingatanku akan dirimu yang dulu pernah ku cinta. Namun cinta itu seakan akan hilang dimakan waktu. Entah, aku yang terlambat memulai atau kau yang tidak pernah memiliki perasaan yang sama denganku. Itu sungguh menyakitkan, ketika aku kerap mengorbankan perasaanku demi kebahagianmu. Kau bilang aku membawa warna baru dalam hidupmu, kau bilang kau tak ingin berpisah denganku, kau bilang kau menyukai suaraku. Apakah itu semua hanya bualan yang pahit? Apakah itu hanya omong kosong seorang laki-laki? Aku tak tahu.
Kau kembali menghadirkan dia didalam kita, dia yang adalah masa lalumu yang tak kunjung kau lupakan. Dia yang lebih kau anggap dalam hidupmu. Biar aku tanyakan. Pernahkah dia ada disaat kau membutuhkannya? Pernahkah dia menanyakan kabarmu juga mengkhawatirkanmu? Apakah dia tahu kau takut pada hewan apa? Apakah dia tahu hobimu? Dia tahu makanan yang tidak kau sukai? Apakah dia peduli dengan semua ini? Aku rasa tidak. Aku tidak bermaksud menggurui, Sayang, tapi bahkan dia tidak peduli dengan bagian kecil dari hidupmu. Mengapa harus dia?
Malam yang sepi selalu menyesakkan hidupku. Menggerogoti kenangan akanmu, mengikis kesabaranku akan tingkahmu, mengendapkan perasaan rindu ke arahmu. Aku tersiksa. Setiap malam ini yang terjadi pada ragaku, tidakkah ini menyakitkan? Pernahkah kalian harus mengiris tipis perasaan kalian demi melihat senyuman bahagia dari bibir seseorang yang kalian sayangi? Pernahkah? Pergulatan pikiranku semakin mengencang, menarik semua syarafku untuk merasakan kengiluan yang luar biasa sakitnya, lebih sakit daripada ditusuki jarum, lebih sakit dan berulang-ulang. Malam ini menyiksaku.
Sudahkah kau bahagia melihatku bertarung dengan perasaanku sendiri? Tidakkah kamu ingin melihatku bahagia karena juga melihatmu bahagia? Aku selalu memaksa senyumku tergambar di wajah ketika aku melihatmu dengannya. Aku menutupi sakitnya pukulan didadaku dengan melukis senyuman termanis dibibirku, terlalu manis.. hingga menjadi pahit. Aku merelakanmu jatuh dipelukan perempuan yang lebih indah dan bisa kau banggakan, dia memang jauh lebih indah daripada aku, aku yang hanya bisa memberikan senyumku untukmu.
Pada akhirnya, kerelaanlah yang paling dibutuhkan saat ini. Merelakan sesuatu yang sudah digenggam erat memang sulit, sangat sulit. Perasaan ini terlalu berbelit dan perih untuk diingat. Namun aku sadar, ini adalah sebuah pelajaran yang patut aku banggakan dari diriku. Aku tersenyum dan bahagia untukmu dan dirinya, dirinya yang jauh lebih pantas memilikimu. Sekarang nyatanya kau sudah hilang dari pandanganku. Tenang saja, walau begitu aku tetap kuat. Walau kau telah merobek-robek hatiku, aku tetap tersenyum. Aku akan tetap mencintaimu, walau sekarang perasaanku tidak sama lagi seperti dulu. Aku tidak akan pernah melupakanmu yang sempat memiliki hatiku dan bagiku yang terpenting, kau juga tidak akan pernah melupakanku.
Kisah ini kupersembahkan untukmu, pemilik hatiku..

No comments:

Post a Comment