Sabtu, 17 Agustus 2013

Aku yang takut akan hari tanpa hadirmu

Kau patahkan lagi hati ini, Sayang. Kau hancurkan lagi harapan yang telah ku bangun setinggi langit. Bukankah kau merasakan getaran cinta dari ragaku? Lantas, mengapa kau masih saja menganggapku tak ada? Setelah kau memberikan cintamu kepadaku, lalu sekarang kau enggan menatap ke arahku lagi, hinakah aku dimatamu? Salahkah bila aku tetep bertahan untukmu?
Sakit dan sesak mendorong relung hatiku hingga lebam. Banyak perasaan yang belum sempat kuungkap karena lagi lagi kau kembali kepadanya. Haruskah aku menjadi yang selalu mengalah? Haruskah aku menunggumu dan mengorbankan perasaanku lagi? Aku merasa bodoh dan linglung.
Sayang, seandainya kau tahu, hatiku perih ketika mendengarmu menyebut namanya. Nama perempuan lain, dan itu bukanlah aku. Tentu saja bukan aku, kami berdua jauh berbeda. Dia bahkan lebih cantik daripada aku, dia pandai, dan baik hati. Sudah cukupkah hal ini membuatku merasa jatuh, terbuang, dan tak nampak dimatamu, Sayang? Berat memang harus memendam perasaan ini demi kebahagiaanmu kelak, tapi apa daya, kau bahkan tak pernah menganggapku ada
Aku mengutuki diriku sendiri, mengapa aku tidak bisa seperti dia? Dia yang kau cinta, dia yang selalu kau anggap. Bukankah pekerjaanku ini menyakitkan? Menjadi seorang yang mencinta tanpa dicinta. Bukankah kau sudah cukup puas melukai aku? Maaf, bila aku terlalu berlebihan bagimu, tapi itu semua karena cintamu yang terlanjur menyala di lorong hatiku.
Pernahkah kau memikirkan apa yang selama ini aku rasakan? Penantianku untukmu memakan waktu yang lama, hingga menggerogoti kesabaranku yang memang sudah menipis. Ingin rasanya aku meninggalkanmu yang "terlalu abu abu" tapi aroma cintamu terus menjeratku agar aku masuk semakin dalam. Ini tidak adil! Mengapa aku harus terlalu mencintai sosokmu yang telah menghujami hatiku dengan begitu banyak kekecewaan dan kepalsuan? Bagaimana bisa kau berpura pura sayang kepada seseorang yang sama sekali tidak berarti dimatamu? Bagaimana bisa?
Sulit menyangkal perasaan ini. Perasaan yang mengingatkanku betapa berharganya dirimu bagiku. Setiap malam tiba, rasa rindu itu kembali muncul, rasa rindu untuk menggenggam erat tanganmu, aku bisa merasakan aliran darahmu dikala kita bergandengan. Tanganmu memang dingin, tapi pribadimu sungguh hangat, rasanya seperti sang fajar yang baru saja terbit menyapaku dengan tiupan kemesraan.
Baiklah, mengapa aku harus bertemu denganmu yang sudah terlanjur menyalakan api cinta dan sekarang enggan menjaga atau meniup api itu. Sungguh, harap yang terlalu tinggi dan balasan yang tak pernah muncul itu menyakitkan, aku kerap menyiksa diriku demi kebahagiaanmu, Sayangku. Inikah cara dirimu membalasa tulus cinta yang ku beri? Aku tidak pernah mengharap balasan yang rumit, aku hanya ingin kau sadar bahwa aku ada, aku yang selalu menunggumu disaat apapun. Haruskah aku berdiri di puncak Gunung tertinggi hanya untuk meneriakkan namamu yang bahkan jauh lebih indah daripada Gunung?
Malam itu, guntur menyambar-nyambar, ketakutanku sudah memuncak, ingin rasanya aku memelukmu penuh hasrat. Apakah kau merasakan ketakutanku? Bukan hanya takut akan malam yang sepi, tapi juga ketakutan akan kehilangan dirimu, Aku tidak akan pernah sanggup kehilanganmu, Pria Gagahku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar