Sunday, 18 August 2013

Cinta Pertamaku; Penguasa Bola Basket




Hela nafasmu terasa di anganku, degup jantungmu bermain di ragaku, senyum manismu terbingkai di mataku. Cinta pertamaku adalah kamu, cinta yang pertama kali membuatku sulit tidur karena teringat semua tingkah konyolmu saat bersamaku. Gurauanmu menggelitik nadiku, menghambat darahku, menahan pekikkan riang di mulutku. Cinta pertama selalu indah, cinta pertama mengajarkanku bagaimana menganggap semuanya ada, begitu manis dan pekat, aku sendiri sulit meneguknya dalam keadaan utuh.
Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi membuatku tidak bisa mengelak bahwa aku menyukainya, aku tergila gila padanya. Dia bukanlah laki-laki yang mempunyai segalanya. Ah, tunggu dulu, dia mempunyai segalanya; hatiku. Aku suka mengamatinya kala bermain gitar, dia terlihat begitu keren dan menawan, sungguh. Aku suka memandanginya kala dia bermain basket bersama teman-temannya. Otot-otot berjubel dilengan tangannya, keringat mengucur deras hingga membanjiri pakaiannya, setiap lompatannya menerbangkan nyawaku hingga menembus seluruh awan. Dia selalu dapat mengambil seluruh perhatianku, perhatianku yang hangat seperti pancake dengan saus madu diatasnya.
Sore itu aku memang sengaja menungguinya bermain basket. Seluruh syarafku menegang tatkala dia melambaikan tangannya kearahku, aku ingin pingsan! Sesekali matanya yang sipit melirikku yang setengah mati menahan jerit bahagia, aku menggigit bibir agar suaraku yang nyaring tidak keluar dari mulutku, bisa mati aku kalau dia tahu. Aliran darahku melaju begitu cepat seperti mobil F1 yang tengah dipacu di sirkuit, cepat dan lurus. Tolong aku, hentikan semua kegilaan ini, aku lelah.
Pujaan hatiku terus saja mendrible bolanya, berkali-kali ia masukkan ke dalam ring lalu berteriak kegirangan sambil ber-tos-ria dengan teman-temannya. Sepatu nike berwarna biru tua itu selalu membuatnya semakin keren, ditambah lagi ikat kepala bludru berwarna hitam selalu ia kenakan saat bermain basket. Aku ingin menciumnya saat itu juga. Aku tidak bohong. Teruslah bermain basket, agar aku dapat selalu mengagumi sosokmu yang begitu indah di mata hatiku, sosokmu yang menawan, menarikku keluar dan memaksaku untuk selalu menatap geliat cintamu yang terlanjur berpantulan di lubuk hatiku. Derap langkah kakimu meniupkan angin surga yang membuatku terayun-ayun tinggi dan menhirup aroma kedalaman lautan cinta diantara kita. Kita, aku dan kamu, penguasa bola basket.

No comments:

Post a Comment