Tuesday, 27 August 2013

Kau hanya Pandai Bersandiwara dan Memainkan Perasaan Orang Lain



Aku pernah disakiti, bahkan sering. Kadang aku merasa ini tidak adil, aku kan yang tulus mencintaimu, tapi kenapa kau lakukan ini padaku? Tidak berartikah aku dimatamu? Apakah penantianku sia-sia belaka? Kau tahu rasanya dihempaskan? Begitu sakit, membuat tulang-tulangku terasa ngilu dan nyeri, menghilangkan memoriku akanmu, membuat jantungku serasa tidak berfungsi lagi, sesak. Harus sampai kapan aku melihatmu tengah bersiap-siap menghempaskan aku untuk yang kesekian kalinya? Harus sampai kapan aku menikmati sakitnya karena menantimu? Mungkin sampai kau sudah puas nanti.
Kau tahu rasanya disalahkan? Aku bahkan tidak berbuat apa-apa, tapi aku selalu menjadi yang disalahkan, dan kesalahan yang kau limpahkan itu membuat beban dalam hidupku, sungguh berat, hidupku terasa sungguh berat. Dalam keadaan seperti ini, aku hanya bisa bersabar dan tersenyum untukmu. Ya, untukmu yang telah melimpahkan segala kesalahan padaku, padaku yang begitu tulus mencintaimu, walaupun kau hempaskan aku berkali-kali, walaupun kau tancapkan duri tajam direlung hatiku yang membisu. Andai hatiku dapat berbicara, ia pasti sudah berteriak dan merintih kesakitan “Tolong hentikan semua ini! Aku hanya ingin merasakan cinta seperti yang lainnya, tapi mengapa cinta terasa begitu menyakitkan?” kira-kira begitulah bunyinya.
Aku pernah kau buat melayang hingga menembus nirwana, tapi semua hanya terasa sesaat, begitu singkat dan menyakitkan. Kau pernah mengajakku berayun-ayun menikmati aroma cinta yang kau berikan, aromanya sangat wangi dan menyengat hingga membuatku hampir pingsan. Tapi, yah, semua itu hanya sesaat, begitu cepat membuatku merasa bahagia, tapi juga begitu cepat membuatku kembali terluka. Kau ini hanya pandai bersandiwara dan memainkan perasaan orang lain, kau pandai sekali memikat hati, tapi kau jauh lebih pandai mematahkan harapan yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam.
Kau terlanjur memikat hatiku, pesonamu melumpuhkan syaraf-syaraf ditubuhku hingga beku. Tapi itu dulu. Kini, kau telah menghancurkan segalanya menjadi keping-keping yang begitu tipis dan kecil, sangat rumit untuk bisa disatukan kembali. Kau telah menyakitiku secara perlahan. Aku juga bisa merasakan lelah yang luar biasa menyerang tubuhku karena kesakitan yang kau beri berkali-kali. Inilah waktunya aku menikmati semua sandiwara dan permainanmu, Tuhan tahu bagaimana sakitnya menjadi Aku. Kelak, Tuhan akan membalas semua yang terjadi kepadaku, dan aku yang akan tersenyum melihatmu.

No comments:

Post a Comment