Saturday, 31 August 2013

Malaikat Berselimut Lara



Aku ini remaja yang sedang menikmati harumnya aroma cinta. Tapi, terkadang aku menghirup aroma itu terlalu berlebihan, hingga membuatku tersedak sendiri. Pada intinya, aku mudah jatuh cinta. Namanya juga remaja. Kalian sendiri sulit mengendalikan perasaan itu kan? Apa lagi rasa rindu, uuuhhh perasaan ini lah yang paling aku benci, kenapa? Karena sakit yang dirasa bila rindu tak terbalas. Jelas saja, kau bahkan sudah tidak menganggapku ada. Aku sangat merindukanmu yang dulu...........
Wajahmu masih tergambar jelas dalam otakku, suaramu masih terekam dalam telingaku. Aku merindukan kita yang dulu. Haruskah kita menyerah pada keadaan? Bukankah kau sendiri yang bilang, ingin berjuang demi perasaanmu walaupun badai silih berganti? Ah, aku ingat, itukan hanya bualan seorang laki-laki.
Sayapku mulai patah satu persatu, itu semua karena sakit yang ku rasa. Kenapa aku ini? Hanya sakit yang bisa aku rasa. Aku ini Malaikat Berselimut Lara, sungguh menyedihkan. Aku diambang kematian, sedang menunggu Pangeran berhati putih dan lembut untuk kembali mengajariku terbang menuju nirwana, sekalipun itu menggunakan sayapku yang patah dan hampir remuk. Tapi aku yakin, laki-laki yang nantinya akan mengajakku kembali terbang adalah Pangeran impianku.
Dinding-dinding hatiku sudah rapuh, mungkin hanya dengan tiupan kecil, semuanya akan roboh. Selemah itukah aku? Ya, aku memang lemah, dan itu semua karena kau meninggalkanku sendiri di tepian jurang, aku bimbang dan ketakutan. Senyum yang tergambar jelas diwajahmu sekarang, adalah senyum kebahagian, kau bahagia melihatku hampir remuk? Kau hanya tinggal meniupkan angin dari bibirmu, maka aku akan sirna.
Warna jingga menghias langit dikala senja, tanda mentari akan kembali ke tempatnya berada, namun aku masih saja tak mau pergi untuk melepaskanmu yang telah mengukir lara dalam relung hatiku. Melihat langit menjadi kehitaman dan gelap membuatku meredam tangis. Aku tahu, begitulah pula warna hatiku, hitam dan gelap, sudah tercemar dan terluka. Aku menanti bila suatu saat nanti, warna hatiku akan kembali seperti semula. Aku menanti
Setiap pagi aku mencoba mengepakkan sayapku untuk melintasi dunia dan mencari yang terbaik. Namun, selalu saja gagal. Saat aku terbang dan merasakan rona cinta, aku juga merasakan pahit yang membuatku kembali terjatuh dalam laut yang dalam dan gelap. Aku tenggelam dan tak bisa bernafas. Sakitnya cinta mencekik dan menggores didada. Pada akhirnya aku tersadar, bahwa aku adalah Malaikat Berselimut Lara yang tersenyum dalam kesakitan yang melanda

No comments:

Post a Comment