Wednesday, 21 August 2013

Manisnya Menanti



Tiupan angin mengiringi kepergianmu, kau menjauhiku. Hilangnya sosokmu dari dalam hidupku membuat keheningan batin serta goresan luka. Haruskah dengan cara ini semuanya berakhir? Aku tidak rela, tidak akan pernah rela untuk melepasmu.
Lagu milik Yovie & Nuno – Sempat Memiliki mengalun lembut lewat radio..
Mengapa kita bertemu
Bila akhirnya dipisahkan
Mengapa kita berjumpa
Tapi akhirnya dijauhkan
Kau bilang hatimu aku
Nyatanya bukan untuk aku
Bintang di langit nan indah
Di manakah cinta yang dulu
Masihkah aku di sana
Di relung hati dan mimpimu
Andaikan engkau di sini
Andaikan tetap denganku
Aku hancur
Ku terluka
Namun engkaulah nafasku
Kau cintaku
Meski aku
Bukan di benakmu lagi
Dan ku beruntung
Sempat memilikimu
Engkau mengatakan
Merindukan diriku lagi
Ingin kusampaikan
Ku tak hanya sekedar rindu

Lirik lagu itu sungguh menohok. Aku yang sedang minum segelas teh hangat hampir tersedak “Astaga lagunya.” Batinku.
Teriakan Mama dari ruang bawah mengagetkanku “Sela, ada Eno tuh.” Akupun bergegas turun sambil bertanya tanya dalam hati Eno? Mau apa dia kesini?
“Hei, La.” Sapa Eno begitu melihatku tersenyum kearahnya,
“Hai. Ada apa, No?”
“Nggak ada apa-apa. Aku mau ngajak kamu makan.”
“Sekarang?”
“Iya.” Jawab Eno mantap.
Eno mengajakku makan dikaki lima, tempat favorit kami. Sudah lama sekali ia tidak mengajakku pergi. Ya, semenjak ia punya pacar baru. “La, aku udah putus sama Nindi.” Kata Eno saat aku tengah menikmati bakmi yang asapnya masih mengepul diudara.
“Loh? Kenapa, No?”
“Nggak papa. Aku ngerasa nggak cocok aja.”
“No, yang namanya hubungan itu bukan masalah cocok atau nggaknya. Sekarang tiap orang kan punya sifat yang berbeda-beda, kalau disatuin juga sebenernya nggak ada yang cocok. Kan kalian saling melengkapi.”
“Hmmm.. Iya sih, La. Tapi, aku capek sama dia. Bayangin aja, dia nggak pernah kasih perhatian ke aku, dia nggak pernah ngasih kabar. Memangnya aku ini apa? Aku ini kan pacarnya, La.”
“No, memangnya kamu nggak bisa sedikit bersabar untuk dia? Katanya kamu sayang? Buktiin dong. Kasih dia waktu kek, ngertiin kek.” Kali ini kata-kataku bijaksana. Padahal aku sendiri terluka mendengarnya lagi-lagi bercerita tentang perempuan lain. Kenapa bukan aku?!
“Yaudah, La. Lagian dia juga kaya nggak serius sama aku. Aku cuma buat main-main, seperti biasa.”
“Yang sabar ya, No.” jawabku lembut,
“Aku sabar kok. Lagian disini kan ada kamu. Hahaha..”
“Apasih, No.” kali ini wajahku memerah. Aku sengaja memalingkan wajah agar Eno tidak melihat warna wajahku yang sudah seperti tomat.
“Makasih ya.” Kataku sesampainya kami didepan rumahku
“Sama-sama, La. Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu, kan kamu udah nemenin aku makan.” Selanjutnya, Eno berpamitan dan segera pulang.
Kali ini rasanya seperti pertama kali jatuh cinta. Tidak pernah aku merasa sebahagia ini setelah 8 bulan berlalu. Akhirnya dia sadar bahwa akulah yang tulus mencintainya, akulah yang selalu mendukungnya. Tapi aku takut semua ini hanya sementara, padahal perasaanku padanya kan tidak sementara. Kedekatan kami kembali terjalin, sangat hangat, seperti saat pertama kali kenal. Rasa cintaku padamu tidak pernah hilang, bahkan semakin bertambah dan terus bertambah. Hingga rasa rinduku padamu muncul setiap hari, menggelitik perutku, membuatku tertawa kecil.

2 bulan kemudian........

Eno mengajakku makan di taman yang kecil, suasananya sangat romantis, dan tenang.
“La, aku minta maaf ya.” Eno memulai kalimatnya,
“Hah? Maaf untuk apa, No?” mataku membola
“Aku minta maaf atas semua kebodohanku. Aku baru sadar kalau cuma kamu yang ternyata benar-benar tulus sama aku. Aku minta maaf karena tidak menyadari ini dari awal. Kenapa ya aku harus memilih dia yang bahkan tidak mencintaiku dengan tulus? Aku juga minta maaf karena telah menyakitimu dengan lebih memilih perempuan yang salah. Aku minta maaf, La. Aku sayang kamu.”
Aku tidak sanggup menahan air mata dan langsung merengkuhnya dalam kerinduanku, “Nggak papa. Aku juga sayang kamu.” Malam itu terasa sangat indah. Akhirnya aku dapat merengkuh apa yang aku rindukan selama ini. Aku mencintainya, sungguh mencintainya.

“Hanya cinta nan tulus yang mampu membuat kita berkorban, dan membahagiakan orang yang kita sayangi. Hanya ketulusan hebat yang mampu menguatkan kita. Hanya kesabaran yang megah mampu menghasilkan buah manis yang dapat kau nikmati setiap waktu. Terkadang, kita harus mengorbankan perasaan kita demi seseorang yang kita cintai. Tapi, lihat saja hasilnya nanti, begitu manis dan dapat menerbangkan ragamu setinggi bintang di angkasa. Itulah cinta.” –Angela Nirmala Nariswari

No comments:

Post a Comment