Sunday, 25 August 2013

Merelakanmu membuatku Mati



Pagi menjelang seiring hariku yang penuh dengan bayangan tentangmu. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Lagi lagi aku melihatmu bahagia dengannya, sungguh, kau terlihat begitu bahagia ketika dengannya, dengannya yang adalah cinta pertamamu. Kau telah melupakan semua tentangku, aku adalah bayangan masa lalumu yang tak perlu kau anggap, aku tidak pernah memiliki arti dimatamu. Tapi haruskah aku yang selalu terluka kala melihatmu tersenyum bahagia tanpaku? Tidakkah kau rindu padaku? Tidakkah kau pernah mencintaiku? Kenapa bisa kau menghempaskanku lalu pergi dengan membawa sosoknya dalam hidupmu.
Kesepian yang menyerang hidupku bagaikan ujung tombak yang tajam, tombak itu memberi begitu banyak luka yang dalam. Aku merasa hampa setelah kau pergi jauh dariku, kau pergi begitu saja tanpa ku tahu apa alasannya. Kau semakin menjauh, selalu menjauh dariku, seakan-akan aku ini adalah mimpi burukmu yang menjadi kenyataan. Kau meninggalkan aku dipersimpangan jalan, kau membuatku bingung. Apakah aku harus terus berjalan, belok ke kiri, ke kanan, atau berhenti saja? Aku tahu, kau pasti sengaja membuat aku bingung, kau sengaja kan membuat aku terluka? Kau sengaja berubah menjadi tidak jelas agar aku semakin sulit untuk menggapaimu.
Beri aku sedikit ruang agar aku dapat bernafas lega. Kau selalu mendesakku dalam situasi ini, kau selalu membuat rongga didadaku terasa sesak, aku sulit bernafas dan merasakan aroma tubuhmu yang begitu melekat dalam inderaku.
Taukah kau aku begitu terluka? Aku memang sengaja tak pernah menghubungimu, hal itu kulakukan agar kau bisa bebas menikmati kebahagian hidupmu tanpa adanya beban dariku, tanpa kau harus mengingat lagi semua tentangku yang tidak penting dalam hidupmu. Aku menahan semuanya dalam diam, dalam diam aku selalu berpikir.. bisakkah kau kembali dalam pelukku? Bisakah kita memulainya lagi dari awal? Aku berusaha keras menahan rasa cintaku padamu, namun kau tetap ada dalam hati maupun pikiranku.
Begitu banyak laki-laki yang berusaha mendekatiku, tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu, mengapa semua ini terjadi kepadaku? Hatiku sudah terlanjur terkunci untukmu, sulit bagiku untuk merasakan cinta selain dirimu, aku sulit merasa bahagia kembali bila itu tanpa dirimu. Aku ingin bertahan dalam cintaku padamu yang telah begitu rapat.
Setiap malam tiba aku menerka-nerka apa yang tersirat dalam benakmu. Aku hanya ingin kau masih merasakan kobaran cintaku padamu, dan aku juga ingin kau masih mau membalas perasaanku padamu ini. Malam yang begitu dingin membuatku merindukan pelukanmu yang begitu berarti, pelukan itu, membuatku merasa nyaman. Aku rindu mendengar tawamu yang begitu lugu, aku rindu melihatmu tertawa karena aku. Setiap detik aku merasakan rindu hanya padamu, tak pernah berhenti.
Kini, aku berusaha menikmati hidupku yang pahit karena kepergianmu. Kau semakin tidak jelas. Aku sakit dan terluka.
Aku tidak pernah menyangka bahwa semudah itu kau menghapus aku dari dalam hidupmu. Aku yang mengerti semua tentangmu, aku yang menopangmu dikala kau sendiri dan terjatuh. Jikalau kau memang harus pergi dengan segala ketidak jelasanmu, ijinkan aku mendengar kau berkata untuk yang terakhir kalinya, “Aku masih mencintaimu, Malaikatku, apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu, walaupun aku tahu kita tak mungkin dapat bersatu.” Dan dengan begitu aku akan menjawab, “Aku pun masih mencintaimu. Aku ingin kita berjuang bersama demi perasaan ini.”

No comments:

Post a Comment