Sunday, 18 August 2013

Perasaan yang Tidak Pernah Terucap



Penantianku bukanlah hal yang mudah. Dengan melihatmu menyukai perempuan lain, menurutmu itu mudah? Hatiku menjerit tatkala aku mendengarmu bercerita tentangnya, hatiku tercabik cabik mengetahui kau telah cinta mati padanya.
Hari berjalan begitu cepat, tapi penantianmu terhadapnya tak kunjung menemukan hasil yang manis dan jelas. Sesekali kau bercerita kepadaku sambil menangis, rengkuhan tanganku tak kuasa ku tahan, aku merengkuhmu dalam diam, diam yang berarti aku juga tersakiti melihatmu menangis, "Udah, jangan nangis gitu ah, kamu kan kuat." kataku singkat.
"La, menurutmu aku harus bagaimana?"
"Lah, Do, kok kamu nanyanya ke aku sih? Ikuti kata hatimu dong."
"Hatiku udah mati rasa, La." jawabnya sambil terkikik lalu mengelus rambutku, sayang..
"Do, sebenarnya aku sedih kalau lihat kamu terus-terusan kayak gini."
“Aku juga sedih sama diriku sendiri, La, hahaha.”

Seandainya dia tahu tentang apa yang ku pendam selama ini, “Kenapa sih harus cewek itu yang dipilihnya? Edo! Sadarlah, ada aku disini!” jeritku dalam hati. Riuhnya suara hatiku mungkin bisa didengar orang banyak. Aku tidah tahu sampai kapan aku harus menahan dan memendam rasa sakit ini sendiri. Haruskah aku menyatakan rasa cintaku kepada Edo? Aku takut perasaanku nantinya akan menghancurkan persahabatanku dengannya yang telah begitu lekat, rasanya seperti surat dengan prangko, tidak akan bisa lepas. Memang tidak enak, jatuh cinta dengan sahabat sendiri, apalagi aku perempuan, tidak mungkin kan aku menyatakan perasaanku duluan?
“La, aku jadian sama Fera!” Teriak Edo dari luar kamarku,
Kretek.. kretek.. kretek suara dari dalam hatiku, “Oh ya? Wah, selamat ya, Do, I’m happy for you.”
“Terima kasih Nila sayang.” Edo memelukku erat
Oh Tuhan, rasa nyeri itu kembali menyerang, bertubi-tubi dan dalam. Lagi lagi aku mengorbankan perasaanku untuknya. Haruskah aku sedih, marah, atau justru senang? Konsekuensi dari perasaan yang tak terucap adalah sakit, bahkan lebih dari sakit. Yah, setidaknya aku tetap memiliki tempat yang special dihatinya, sebagai sahabat, hanya sebagai sahabat.

Sebuah perasaan yang mekar didalam hati, apabila tidak diucapkan akan sama dengan kue manis yang dipajang didepan toko, tetapi tidak dilirik pengunjung; terabaikan. Harus kalian ketahui bahwa memendam perasaan sama dengan membunuh diri kalian secara perlahan. Apabila kalian tidak sanggup untuk menahan beban dari perasaan yang terabaikan, lebih baik kalian menyerah dan mengikhlaskannya, sebab rasanya akan seperti tertusuk ribuan duri tajam yang beracun. Semakin lama kalian bertahan, semakin lama pula kalian merasakan sakitnya. Hingga suatu saat kalian akan melihat, luka itu telah membusuk dan tidak dapat sembuh.

No comments:

Post a Comment