Sunday, 11 May 2014

Biar Rindu yang Bersuara

Jarak yang memisahkan kita selalu membuat hatiku ngilu. Kata rindu yang terucap selalu terbalas dengan pilu. Aku resah menunggu kabar darimu, darimu yang selalu menghantui malamku. Tangisku pecah waktu itu, waktu aku mendengar suaramu dan aku berlagak seakan-akan aku baik-baik saja. Ya, inilah aku dan semua rahasia hatiku. Kau bahkan tidak peduli bahwa ada aku yang menangis setiap malam hanya karena merindukan sosokmu.
Kau enggan menatapku lebih dalam, kau enggan merasakan sakit yang sama denganku. Kau bahkan terlalu sibuk dengan perasaanmu sendiri, sayang. Pernahkah kau merasakan apa yang ku rasa? Tentu saja tidak. Bila memang iya, kau pasti bisa memelukku dalam rindumu juga. Kau memang selalu mengatakan bahwa kau tahu apa yang ku rasa, tapi buktinya—kau malah bertahan pada kerasnya hatimu.
Aku tidak bisa menyalahkan jarak dan waktu. Mereka bahkan tak peduli pada kita. Aku hanya bisa menyalahkan diriku dan semua ketidak sempurnaanku yang mungkin membuatmu menjadi asing dihidupku. Namun bagaimana pun itu, akulah yang selalu merindukanmu didalam setiap ruang hatiku, akulah yang berharap penuh akan kepedulianmu pada hatiku yang sudah menjadi debu.
Setengah mati aku menahan agar kata rindu itu tak terucap, setengah mati aku menahan rasa sayang ini agar tak terlalu berlebihan.. itu semua terjadi karena sosokmu yang membuat dinding di sela hatiku, aku tak merasakan hadirmu yang sesungguhnya. Aku harus bagaimana? Aku lelah memendam rasa rindu dan tak berani mengungkapkannya padamu yang aku cintai. Biar jarak yang memisahkan kita, dan waktu yang tak mengijinkan kita bertemu.. aku akan selalu mengharap pelukmu.
Biar rindu ini selalu ku simpan, dan ku rasakan sendiri…

No comments:

Post a Comment