Monday, 5 May 2014

Aku dan semua Rintihanku



Aku selalu memainkan air mukaku agar tak nampak sedih dan hancur. Hari itu, semua masalah datang bertubi-tubi dan menghancurkan ragaku perlahan. Aku hanya ingin merasa bebas dan tenang. Tapi, waktu tak pernah berada pada pihakku. Aku ini siapa sih? Mana mungkin mereka peduli. Begitu yang terus terngiang di benakku. Teruskan saja kalian menyakiti dan membuatku remuk tak berbentuk! Bukankah kalian puas menatapku yang penuh derita dan dusta?
Aku tertatih sendiri melintasi jalan kehidupan yang penuh dengan api kebencian. Kalian tidak pernah tau betapa sakitnya hati ini. Kalian tidak pernah tau betapa sepinya raga ini. Ah, tau apa kalian? Kalian cuma tau tentang merobek dan mencabik hati seorang yang lemah. Memangnya pernah kalian berpikir bagaimana rasanya menjadi aku? Aku yang terus saja membingkai senyum manis pada wajah, namun lemah pada rasa. Rasa yang sudah hilang, sirna, pahit, dan hancur. Lengkap sudah.
Tawa yang kubunyikan adalah tawa yang menyedihkan. Nyanyian yang kudendangkan adalah nyanyian yang tak selamanya nyata. Keceriaan yang ku hadirkan adalah keceriaan yang semu belaka. Harusnya kalian tau, itu semua adalah topeng! Bukankah kalian juga memakai topeng? Tidak usahlah kalian sok menghadirkan cinta dan kehangatan dalam hidupku, bila semua itu hanya untuk menusuk dan membuatku terjatuh. Kalian benar-benar jahat.
Maka itu, teruskan saja bila itu memang yang kalian inginkan. Biar aku sendiri yang merasa sepi dan tak punya siapapun. Biar aku sendiri yang menangis tiap malam dan menahan sesak dalam dada. Intinya, biar aku saja yang merasakan semua sendiri tanpa seorang pun tau bagaimana rasanya menjadi aku.

No comments:

Post a Comment