Tuesday, 19 April 2016

Dia dan Cerita Tentang Harapannya



Pagi ini tidak secerah pagi-pagi sebelum tanggal tujuh belas bulan lalu. Pagi ini berbeda, sedikit dingin dan sepi. Senyumnya pun berbeda, dia terlihat sedikit lelah dan kecewa. Hanya sedikit lelah dan kecewa kok.
Dia tidak tahu apa yang membuatnya kecewa, yang dia tahu, dia kecewa dengan dirinya sendiri. Dia terlalu menaruh harapan yang begitu besar pada apa yang dia inginkan. Baginya, ketika harapan itu terjadi kira-kira satu atau dua bulan yang lalu, dia merasa seperti hidup kembali. Sayang, sekarang ada saja yang membuatnya merasa seperti mayat hidup lagi.
Yang dia sebut dengan harapan adalah apa yang menjadi teman sehari-harinya, terkadang menjadi musuh terberatnya dalam sepekan pula. “Harapan itu bikin aku bahagia sejadi-jadinya! Tapi lebih sering bikin aku tertindas dan sendirian. Kalo boleh milih, aku pengin bahagia terus sama harapan aku,” katanya.
Yang dia ingin dari harapan itu adalah bahagia, bukan perasaan terpuruk seperti ini.
Yang dia ingin dari harapan itu adalah kepastian, bukan dicampakkan seperti ini.
Yang dia ingin dari harapan itu adalah senyuman, bukan amarah seperti ini.
Yang dia ingin dari harapan itu adalah tawa, bukan tetes air mata yang sia-sia.
Yang dia ingin itu banyak.
Terlalu banyak inginnya,
Dia itu terlalu bocah.
Pagi ini dia terbangun dan menatap harapan, dia memutuskan untuk menutup mata dan melipat kedua tangannya, dia berdoa. KepadaNya dia berdoa agar harapan itu menjadi bahagia dan leluasa.
Pagi ini dia terbangun dan menatap harapan, dia memutuskan untuk menutup mata dan melipat kedua tangannya, dia berdoa. Belum sempat dia mengucap doa, air mata itu sudah mengalir di pipi yang kering kerontang. Dia sedih. Dia mengakui bahwa dia sedih.
Kesedihan yang dia rasa hendak ia bagi kepada manusia lain, tetapi dia tidak mau menjadi egois lagi, ia baru ingat bahwa manusia lain pun punya kesedihan sendiri. Dia sedih. Dia mengakui bahwa dia sedih.
Dia memutuskan untuk membagi kesedihan ini hanya kepadaNya.
Pagi ini dia terbangun lagi dan menatap harapan, dia memutuskan untuk menutup mata dan melipat kedua tangannya, dia berdoa.
Kali ini dia tersenyum lega setelah berdoa. Dia lega karena ia telah banyak belajar dari doa-doanya.
Dia ikhlas dan menyadari bahwa harapan akan tetap menjadi harapan.

Sampai bertemu dipagi selanjutnya, Harapan!
Dia sudah siap untuk tersenyum dan bersabar.

No comments:

Post a Comment